Beranda > motivasi > Ibu….Jangan katakan anakmu Bodoh.

Ibu….Jangan katakan anakmu Bodoh.

Tidak seorang ibu pun di dunia ini yang menginginkan buah hatinya menjadi orang bodoh apalagi orang jahat. Tetapi apakah sudah setiap ibu berusaha untuk membuat putranya tidak bodoh ?

Hal yang paling mudah dilakukan oleh seorang ibu adalah “Jangan sekali kali mengatakan bahwa putra-putrinya adalah bodoh”. Sejelek apapun nilai ulangan maupun nilai raport yang diperoleh adalah hasil pikiran putra-putri sendiri. Satu hal yang perlu ditanamkan adalah sebuah kejujuran dari seorang anak.

Saya bukanlah  seorang spikolog, saya juga tidak memahami tentang karakteristik seorang anak secara mendalam, dan saya juga tidak banyak  membaca tentang bagaimana orang tua mendidik anaknya. tetapi saya ingin mengajak  siapapun  yang membaca tulisan ini untuk sejenak mengetahui bagaimana peran seorang ibu bisa berhasil mendidik anaknya menjadi seorang yang luar biasa dengan penemuan-penemuannya hingga kita semua menggunakan hasil penemuan tersebut sekecil apapun sampai saat ini.

Siapakah Dia …?

Dia adalah ibunda tokoh fisika penemu lampu bolam “Thomas Alfa Edison”.

Suatu hari, ibunda Thomas Alfa Edison menerima surat dari sekolah dimana putranya belajar di sana. Apa isi surat itu ?…..Ibunya tidak pernah menduga sebelumnya, karena dia menganggap putranya bukanlah anak yang nakal di sekolahnya. Akhirnya surat itu  di buka dan betapa kaget ketika membaca isi surat. Thomas Alfa Edison harus keluar dari sekolah dengan alasan tidak layak bersekolah di jalur pendidikan resmi karena bodoh…..

Hanya karena bodoh,….dikeluarkan ?

Kira-kira Apa ya,.. yang akan  kita lakukan bila  hal itu terjadi pada kita saat ini ? Yang jelas pasti lapor DPR, biar paginya masuk koran atau masuk TV sekalian,  atau membawa massa ke sekolah biar anak kita tidak dikeluarkan, …atau langsung lapor bupati atau walikota…..atau bahkan Presiden.

Tapi, Ibunda Thomas Alfa Edison tidak melakukan semua itu,…..(bukan karena belum ada DPR),…tetapi yang jelas…. kita teruskan saja ya.. ceritanya.

Thomas Alfa Edison akhirnya keluar dari sekolahnya setelah tiga bulan belajar bersama-sama temannya. Sang Ibu, tidak marah, apalagi kesal sama Edison, … diajarinya Edison membaca, menulis, berhitung oleh sang ibu dengan penuh kasih sayang di rumahnya. Tidak jarang ibunya juga membacakan buku-buku bagi Edison, antara lain buku-buku yang berasal dari penulis seperti Edward Gibbon, William Shakespeare dan Charles Dickens.

Pada usia 12 tahun, thomas Alva Edison bekerja sebagai penjual koran, buah apel, serta gula-gula di sebuah jalur kereta api. Di usia itu pula, Edison hampir mengalami kehilangan seluruh pendengaran karena penyakit yang dideritanya, penyakit itu membuatnya menjadi setengah tuli. Edison pernah menulis dalam buku hariannya: “Saya tidak pernah mendengar burung bernyanyi sejak saya berusia 12 tahun.”….

Subhanallah…

Pada usia 15 tahun, Edison, sambil tetap berjualan, membeli sebuah mesin cetak kecil bekas yang selanjutnya dipasang pada sebuah bagasi mobil. Kemudian dia mencetak korannya sendiri, WEEKLY HERALD, yang di cetak, diedit dan dijualnya di tempat dia berjualan.

Tuhan Berkendak  Lain.

Suatu hari di tahun 1862, Thomas Alfa Edison menyelamatkan seorang anak  kecil berusia tiga tahun yang hampir di tabrak mobil. Ayah dari anak yang diselamatkan adalah kepala stasiun kereta api di tempatnya berjualan. Dan sebagai rasa terima kasih, kepala stasiun tersebut mengajari Edison cara menggunakan telegraph. Setelah 5 bulan mempelajari telegraph, Edison bekerja sebagai ahli telegraph selama 4 tahun. Hampir semua gaji yang didapatnya dihabiskan dengan membangun berbagai macam laboratorium dan peralatan listrik.

Dari Pendidikan sang ibu untuk suka membaca, menulis, dan berhitung, Edison ibarat orang haus yang tiba-tiba menemukan air, semua akan segera diminumnya sampai habis. Demikian juga semua buku yang dipinjamkan dari kepala stasiun dia baca sampai kumal. Dari semua yang dipelajarinya, Edison menerapkan pelajaran tersebut dengan cara bereksperimen di laboratorium kecilnya.

Pantang menyerah

Untuk menghasilkan penemuan yang sempurna, Edison melakukan percobaan dan eksperimen secara terus menerus di laboratoriumnya. Bahkan untuk  bisa menyalakan lampu hasil temuannya, dia terlebih dahulu harus gagal ribuan kali hingga sampai pada lampu pertamanya yang dapat hidup, ini artinya bahwa tomas alfa edison merupakan seorang yang pantang menyerah, bahkan jika dia ditanya berapa kali dia gagal sebelum memperoleh keberhasilannya dalam menghidupakan lampu, mungkin dia akan menjawab “saya tidak pernah gagal tetapi saya belajar tentang benda yang dapat digunakan untuk membuat lampu dan benda yang tidak dapat digunakan untuk membuat lampu”.

Nah….

Siapa yang bisa membuat Thomas Alfa Edison seperti itu ?…..Ibunya…

Ya, ibunya…. yang  tidak pernah sekalipun terucap dari mulutnya kata “bodoh”, tetapi sang ibu selalu mengatakan bahwa Edison  adalah si kecil yang pandai…..

1.093 hasil penemuannya telah mendapatkan hak paten, termasuk bola lampu listrik, yang kalau mati kita semua ribut, tanpa sedikitpun ingat siapa yang menemukan, dan mengapa dia bisa menemukan,….siapa yang mengajari?…..Ibu……..

sekali lagi ………………I B U..

Luar biasa…..ibu lah yang membuat Thomas Alfa Edison seperti ini.

Semoga menjadi motivasi bagi kita semua….amien.

Kategori:motivasi
  1. Agustus 9, 2010 pukul 10:28 am

    Keren kak Guru, tulisan ini penuh pesan dan motivasi, mudah2an nanti saya bisa jadi ibu yang baik, yang dapat mengantar anak2 mencapai cita-citanya dengan maksimal.. thanks kak Guru,,,🙂

  2. Ridho & Fitri
    Agustus 8, 2010 pukul 12:05 pm

    pakde …good job.. I like it. Lanjutkan…

  3. rokhim
    Juli 13, 2010 pukul 10:01 am

    semoga pengalaman thomas ae dapat meinspirasi, ibu-ibu dan banyak lagi thomas-thomas yang lain, sukses. jzk

  4. Juni 25, 2010 pukul 1:24 pm

    Nice entry, bro!
    3 hr aku mudik, pulang malah demam.

  5. suhardi
    Juni 25, 2010 pukul 1:40 am

    Luar biasa, olah bahasa yang tak kuduga sama sekali. Kalau saja Bapak menuliskan judul “Biografi Thomas Alfa Edison”, mungkin saya tak tertarik membaca, karena sudah sejak SD saya tahu. Di tangan Bapak dengan judul di atas…aku jadi penasaran. Dan….wah sekali lagi luar biasa sekali. Cerita itu menjadi betul-betul memotivasi. Sukses buat Pak Teguh. Salam kenal dari saya,dan satu lagi profil bapak kok tidak ada?

  6. Juni 24, 2010 pukul 10:26 am

    Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang individu. Peran orang tua, khususnya ibu- sangat menentukan terhadap proses tumbuh-kembangnya individu, melalui kasihsayangnya yang tulus (unconditional parental love)

    Dalam al-quran maupun hadist banyak yang menjelaskan tentang hal ini, tetapi kenapa sekarang justru pendidikan malah cenderung dialihkan dan dipercayakan kepada yang namanya sekolah?

    Demikian, pemahaman saya…

    • Juni 24, 2010 pukul 2:39 pm

      Betul sekali Pak. Meskipun tidak semuanya, Begitu anak didaftarkan ke sekolah, seolah-olah semua tanggung jawab (khususnya prestasi belajar) di bebankan ke sekolah, khususnya guru. Ini terbukti tidak banyak orang tua yang memanfaatkan peran BK di sekolah.

  7. Juni 24, 2010 pukul 5:54 am

    sangat memotivasi tulisan ini

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: