Beranda > Uncategorized > Jangan katakan SDM Guru Rendah…

Jangan katakan SDM Guru Rendah…

Di setiap saya mengikuti seminar, workshop, IHT, pelatihan atau apapun namanya, sering kali saya mendengar kalimat : “Sumber daya guru kita masih sangat rendah”. saya kadang-kadang tidak habis pikir, apakah benar demikian ? sumber daya yang manakah yang dimaksud oleh pembicara?. Sebagai salah satu pelaku yang langsung berhadapan dengan peserta didik, maaf…. saya jelas tidak percaya. Ketidakpercayaan saya tersebut saya coba analisa, meskipun mungkin analisa yang saya lakukan tidaklah benar, tetapi paling tidak saya menginginkan adanya perubahan budaya yang motivatif dalam sebuah seminar atau apapun namanya daripada sekedar menyalahkan tanpa adanya alasan yang kuat.

Berikut ini adalah catatan buku harian saya pada  saat saya mengikuti  dan mendengarkan  beberapa nara sumber tentang kalimat yang menyatakan bahwa  “SDM guru rendah”.

Pertama :

Seorang dosen dari sebuah fakultas keguruan mengatakan “Sumber daya guru-guru kita masih sangat rendah“, beliau mengatakan salah satu indikatornya adalah rendahnya hasil ujian nasional.

Benarkah begitu ? Saya hanya bertanya dalam hati, ….Guru-guru yang Bapak maksud lulusan dari mana Pak ? Siapa yang mengajar guru-guru itu sebelum jadi guru ? Kenapa dulu diluluskan? Lalu kalau disebutkan guru-guru kita,…..apakah pengertian kita juga termasuk Bapak ? Karena Bapak juga guru. Kalau Ya….berarti saat ini saya sedang mendengarkan ceramah dari guru yang SDM nya juga rendah.

Ketika disebut indikatornya adalah hasil ujian nasional, pikiran saya langsung tertuju pada seorang teman guru yang dengan suka rela berkorban tanpa sepersenpun dibayar untuk mempersiapkan anak didiknya menempuh ujian nasional, dari mengetik, mencetak, dan menfotocopy soal-soal dilakukan sendiri demi keberhasilan anak didiknya, sementara dukungan dari orang tua siswa nyaris tidak ada, dan hasilnya tetap tidak lulus, Salahkah atau gagalkah teman saya ? Bandingkan dengan teman saya  lain yang mengajar di sekolah faforit yang kalau siang hari bisa tidur, dan bangun saat anak didiknya datang untuk minta les, dengan membawa soal yang sudah difotocopy sendiri karena perintahnya. Cara mengajarnya pun sedikit santai, tinggal mencocokkan jawaban yang sudah dicoba siswa sendiri, kemudian pada akhir bulan mendapat bayaran dari siswa tersebut. Luluskah ?…. Pasti. Berhasilkah gurunya ? yang jelas berhasil mencari tambahan penghasilan.

Bisakah nara sumber mengatakan “Terima kasih kepada Bapak/ibu guru yang telah berhasil mengantarkan siswanya lulus UN, dan bagi Bapak/Ibu guru yang siswanya belum berhasil, saya sampaikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan, cobalah ke depan cari format yang tepat untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar,…dan lain-lain dan lain-lain”.

Minimal….tidak menyalahkan. Saya cuma berfikir positif, seorang guru yang diluluskan dari pendidikan guru, maka pastilah memiliki SDM yang baik. Faktor-X lah yang membuatnya menjadi tidak baik.

Kedua :

Seorang pejabat dinas pendidikan dengan latar belakang disiplin ilmu Komputer dalam  sebuah pelatihan  mengatakan “Kemampuan guru-guru TIK kita ini masih sangat memprihatinkan,….dst” alasannya OSN bidang komputer masih sangat rendah.

Dalam hati,.. saya bicara ; “Pak…..sadarlah Pak.  Adakah perguruan tinggi yang sudah pernah meluluskan pendidikan guru komputer ? Bila seorang guru Sejarah, guru seni, guru Fisika, Guru Kimia, Guru BK, Guru olahraga, atau guru apapun yang lain …mengajar TIK, itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa……sesuatu yang perlu dibanggakan, bukan memprihatinkan Pak ! OSN komputer  itu materinya PasCal. Pas..Cal,  ya Pasti Calah.

Bisakah Bapak mengatakan : “Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak/ibu guru, yang meskipun latar belakang pendidikannya bukan komputer tetapi sanggup untuk mengajar TIK, karena tuntutan kurikulum. yakinlah bahwa dengan semangat belajar, Bapak/Ibu guru tidak akan kalah dengan sarjana komputer..Insya Allah….”

Maka…..saya pasti akan pulang mengikuti pelatihan dengan membawa setumpuk motivasi dari Anda. Karena itulah harapan dari pikiran saya selepas menguti pelatihan, seminar, workshop atau apapun namanya.

Ketiga :

Seorang guru menularkan hasil pelatihan tentang pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.  Ia mengatakan dalam sebuah sosialisasi : “Masih banyak guru-guru kita yang belum mau memanfaatkan teknologi Informasi sebagai alat bantu mengajar, dikarenakan SDM nya kurang“. pada akhir pembicaraan  nara sumber itu memberikan beberapa contoh media pembelajaran berbantuan komputer sebagai alat bantu mengajar.

Lagi-lagi pikiran saya langsung memprotes. “Bukan SDM nya yang kurang Pak,  tetapi komputernya yang tidak ada.

Di akhir sosialisasi, penceramah menayangkan contoh media pembelajaran berbantuan komputer yang dibuat dengan perangkat lunak power point.

Saya tentu saja penasaran untuk melihatnya, dengan harapan dapat meniru apa yang akan ditampilkan.

Pembicara dengan semangat mengatakan ” Coba Bapak/Ibu perhatikan ! ini contoh yang saya bawa dari hasil pelatihan, bapak ibu bisa meniru atau mengembangkan sendiri di sekolah nantinya. Saya yakin siswa pasti tertarik !

Makin penasaran saya…..dan…luar biasa….

Sebuah huruf keluar dari kanan atas sambil menari-nari dan “thung” terdengar suaranya, lalu huruf kedua dari pojok kanan berjalan bergelombang disertai bunyi “Ngos”. Setelah semua huruf bergabung membentuk sebuah judul, masih tampak animasi naik turun seperti gelombang disertai bunyi musik “tering-tering-tering”.

Saya berfikir lagi,….kalau hanya untuk mengatakan judul “Pembiasan Cahaya” saja dibutuhkan waktu kurang lebih 10 detik, Apa ya efisien. Saya yakin setengah jam seperti itu….mata saya plusnya tambah lagi, belum lagi kepala pusing mengikuti setiap gerakan huruf.

Lalu pertanyaan muncul lagi dalam hati “Apakah sumber daya guru rendah gara-gara tidak bisa membuat pusing kepala orangi? saya jawab sendiri….tidak mungkin, saya yakin itu hanya contoh yang kurang menarik, akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya. “Pak contoh yang dibuat Bapak mana ? ….. dijawab  dengan agak gugup,..”maaf  flashdisk saya kena virus, jadi saya belum bisa menampilkan disini, tapi kalau bapak ingin memiliki, nanti saya kopikan…

Saya hanya bisa berandai andai,……. seandainya yang ditayangkan adalah hasil kerja atau produk asli nara sumber, mungkin akan lebih memotivasi peserta dibandingkan memamerkan produk-produk orang lain.

Itulah beberapa catatan harian saya, semoga siapapun yang akan menjadi nara sumber, sebaiknya tidak mengatakan  bahwa “sumber daya guru rendah”, tanpa didukung bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, tetapi katakanlah dengan kalimat yang sejuk, enak dan yang penting memotivasi. Tentu saja ini hanya sebuah Harapan.

Guru salah itu biasa,…tetapi menyalahkan guru ..jangan dibiasakan !

Buat Bapak/Ibu guru tetap semangat, Jangan terpaku dengan semboyan “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tetapi gunakanlah Jasa Bapak/Ibu guru agar menjadi Pahlawan.

Hidup Guru indonesia.

Kategori:Uncategorized
  1. Juli 27, 2010 pukul 3:34 am

    Begitulah jika dunia guru dianggap rendah

  2. nurkadi
    Juli 14, 2010 pukul 2:17 pm

    Saya jadi berpikir termasuk yang mana ya saya ini. Jangan2 masuk yang SDM rendah. Tapi memang tak bisa dipungkiri dengan membludaknya jumlah guru kurang menjamin mutu. Ibarat beras masih belum 100% berupa beras. Nah yang belum jadi beras itu apa harus dibuang saja? Saya hanya berusaha bisa yang menjadi beras.

  3. Juli 6, 2010 pukul 3:23 pm

    Setuju pak, setuju bangets…. (ber-XX)

  4. Juli 5, 2010 pukul 11:17 pm

    Sindiran pedes bagi pemegang kebijakkan dan motivasi bagi teman-teman seperjuangan. Untuk kalangan perguruan tinggi kayaknya perlu mawas diri untuk mencetak kader-kader guru harapan. Untuk pemegang kebijakan jangan asal mencela kita yang di lapangan. Banyak kok teman-teman yang dengan keterbatasannya selalu berusaha meningkatkan kemampuan profesionalnya. Untuk teman-teman seperjuangan jangan cengeng. Ayo buktikan kita tidak seperti kata mereka. Pro sahabatku pak Teguh…Bravo pak. Dua jempol dah…..

    • Juli 6, 2010 pukul 6:41 am

      Terima kasih Bapak Sukaryadi Boyolali atas apresiasinya. jangan lupa ya sama nasi terongnya.

  5. Fulan
    Juni 30, 2010 pukul 3:28 am

    Tulisan yang memotivasi saya.Saya termasuk guru yang bisa dikata tidak disiplin. Kalau di sekolah sering tidak betah, saya juga punya cv kecil-kecilan untuk menambah penghasilan, maaf gaji saya sebagai guru swasta kecil.Tidak sengaja saya klik internet kok lihat tulisan Bapak. Saya malu dengan kata-kata Bapak karena bapak tidak percaya bahwa SDM guru tidak rendah. Bisakah Bapak kasih saran pada saya? terima kasih sebelumnya dan sukses buat bapak yang selalu berperasangka baik.

    • Juni 30, 2010 pukul 5:26 am

      Saya yakin masih ada guru seperti yag bapak sebutkan. Cuma satu kelebihan bapak adalah terus terang, mudah-mudahan bukan nama palsu.Apakah bapak tahu apa yang menyebabkan bapak tidak betah di sekolah ? Apa karena cv yang bapak kelola atau yang lain ? Coba bapak semak apa yang dikatakan oleh Syaidina Ali berikut:
      Jika Anda tidak suka dengan pimpinan, cintailah teman-teman sekerja agar menemukan kebahagiaan.
      Jika Anda tidak suka dengan teman-teman sekerja juga, cintailah murid-murid Anda, agar bapak menemukan kebahagiaan.
      Bila Anda juga tidak bisa mencintai murid-muridnya, cobalah cintai apa yang bisa dicintai ditempat Anda bekerja, agar menemukan kebahagiaan.
      Bila tidak ada satupun yang Anda cintai ditempat dimana Anda bekerja, Kenapa Anda masih disitu. Carilah kerja dimana Anda bisa menemukan kebahagiaan.
      Nah,… karena bapak sudah punya cv, menurut saya kelola saja cv bapak secara profesional. Serahkan tugas mengajar pada orang lain yang lebih baik. Bapak tetap akan menjadi pahlawan karena menyerahkan pendidikan kepada yang profesional, insya Allah cv yang bapak kelola juga akan lebih berkah tanpa harus meninggalkan pekerjaan lain. (Mengelola dua pekerjaan secara profesional memang tidak mudah).
      Mohon maaf bila bapak kurang berkenan, saya tidak bermaksud menggurui, ini hanya sebagai masukan. Semoga bapak sukses.

  6. Juni 30, 2010 pukul 1:52 am

    Wah kedhisikan, tapi malah beneran! Aku sebenarnya juga dah ngrencana mau posting materi ini.

  7. Juni 29, 2010 pukul 1:23 pm

    Upaya mengangkat harkat guru mnjadi guru profesional memang masih membutuhkan upaya keras dari semua pihak, dan pilihan menjadi guru sudah meningkat tajam, tentunya harapan ke depan profesionalitas guru dapat terwujud seiring dengan peningkatan mutu pendidikan. Penilaian apapun tentang guru jelas sangat fariatif sesuai jumlahnya yang luar biasa. Namun guru2 yg penuh dg keikhlasan dan idealisme masih banyak kita dapatkan…..

    • Juni 30, 2010 pukul 12:02 am

      Maturnuwun sudah mampir Bu. Memang Benar Bu saat ini sudah banyak yang mau masuk pendidikan guru, mudah-mudahan bukan karena faktor sertifikasi saja, tapi betul-betul memang ingin bersama-sama mencerdaskan generasi bangsa. amin.

  8. Juni 29, 2010 pukul 3:08 am

    Berbicara tanpa fakta sulit untuk dipertanggungjawabkan, tetapi jika didukung fakta mungkin kita bisa menerimanya.

    Guru memang telah menjadi tumpuan harapan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan juga kualitas bangsa di negeri ini.

    • Juni 29, 2010 pukul 3:50 am

      Setuju Pak ? Sebaiknya untuk berbicara setingkat seminar memang perlu dokumen yang mendukung pernyataan yang disampaikan. Hasil UN menurut saya tidak bisa untuk menklaim bahwa sumber daya guru rendah, tetapi bagaimana proses seorang guru dalam mengantarkan menuju UN itu yang perlu dikaji, tentu saja masih banyak faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: